Pengalaman Naik KA Pasundan, Cuma Bayar 50%!

Sore itu gue berlari dari lampu merah Hotel Sala View ke Stasiun Purwosari, Solo. Kereta tujuan Kiara Condong, Bandung, yang akan gue tumpangi berangkat tepat 10 menit lagi. Menurut gue, jarak 500 meter ini seharusnya nggak terlalu jauh karena track lari di kampus gue dulu panjangnya sekitar 800 meter. Mungkin karena hujan dan perut yang membesar akibat sering makan di angkringan ini yang membuat gue terengah-engah ketika sampai di Stasiun. Detik ketika gue check-in, KA Pasundan terlihat baru sampai di stasiun.

Rencana gue sebenarnya sudah tersusun rapi. Gue nggak suka nunggu lama, jadi gue biasanya lebih memilih untuk tiba di stasiun 15-20 menit sebelum keberangkatan. Nggak seperti naik pesawat yang harus tiba di bandara satu jam sebelum keberangkatan, kereta api memberikan kelonggaran bahkan di menit-menit terakhir kita baru tiba pun masih bisa berangkat, termasuk untuk kereta ekonomi seperti KA Pasundan yang gue naiki kali ini.

Rencana yang rapi harus buyar karena hujan. Gara-gara hujan gue jadi harus memesan ojek mobil online dan terjebak macet jam pulang kerja. Ketika di Solo dulu gue pernah menginap di Hotel Sala View dan ingat kalau jaraknya nggak terlalu jauh dari Stasiun Purwosari. Sampai di lampu merah Hotel Sala View, gue memutuskan turun dari mobil duluan dengan kondisi hujan di luar, lalu berlari ke Stasiun Purwosari mengejar kereta.

Kira-kira waktu tempuh Solo-Bandung sekitar 9 jam perjalanan. Sebagai orang yang paling nggak suka perjalanan jauh, gue sudah menyiapkan list lagu yang akan gue putar secara repeat selama perjalanan. Sampai di kursi gue menyapa basa-basi penumpang di kursi sebelah dan di depan, karena kursinya hadap-hadapan. Petugas KAI lewat sambil membawa makanan, “silahkan nasi goreng telur mata kuda-nya”, Gue langsung mengernyit mendengar suara petugasnya sambil bayangin telur mata kuda yang sepertinya tidak beda jauh sama telur mata sapi.

Kereta berjalan santai, gue mengeluarkan aplikasi menulis novel sambil mengetik beberapa plot yang sedang kepikiran. Lewat stasiun Klaten, lampu kereta tiba-tiba mati. Imajinasi liar gue yang sedang aktif karena sedang memikirkan novel langsung teringat film Train to Busan, dimana tiba-tiba ada zombie. Alih-alih zombie, malah suara nyanyian “Selamat Ulang Tahun” yang terdengar (kondekturnya ulang tahun?). Baguslah, penumpang nggak panik.

Kereta masih dalam keadaan mati lampu ketika petugas KAI datang ke gerbong dan menginformasikan jika kereta akan memperbaiki generatornya di Stasiun Lempuyangan selama 30 menit dan akan memberikan kompensasi 50% dari harga tiket. WOW, 50% loh! Pesawat yang biasa telat berjam-jam aja hanya memberikan biskuit dan air minum gelas. Ini, telat 30 menit saja, 50% akan diganti.

Wajah para penumpang yang awalnya kecewa karena telat menjadi sumringah karena mereka hanya perlu membayar 50% untuk perjalanan ini. Buat gue nggak terlalu masalah karena toh gue akan sampai di Bandung jam 02.34 pagi, telat 30 menit ya nggak masalah karena gue sudah berencana akan nunggu di stasiun dulu sampai hari udah agak terang. Malah waktu tunggu gue di stasiun nanti jadi kepotong 30 menit.

Sampai di stasiun Lempuyangan gue keluar sambil mencari makanan. Gue lihat ada Promo Go-pay di gerai CFC. Cukup bayar Rp 10.000 dengan Go-pay untuk 1 nasi dan dua ayam. Gue langsung menanyakan ke kasirnya apakah promonya masih berlaku. Masih, kata kasirnya sambil bersiap memasukkan pesananku.

Gue langsung buka aplikasi Go-pay dan kecewa karena Saldo Go-pay-nya cuma tersisa Rp 3.000. Gue lalu meminta bantuan teman-teman di grup chat untuk mengirim Go-pay. Tidak ada respon. 15 menit kemudian gue iseng ke gerai toko untuk top-up Go-pay. Ternyata bisa! Setelah gue selesai isi, langsung balik lagi ke CFC. Saat mengantri, terdengar suara pengumuman, “Untuk penumpang KA Pasundan, diharapkan segera naik karena kereta akan segera berangkat”. Sial. Memang bukan rezeki, gue langsung meninggalkan gerai CFC dan naik kereta sambil menggerutu.

Setelah naik, kereta ternyata masih mati lampu. Dikabarkan Stasiun Lempuyangan menyerah memperbaiki KA Pasundan dan melemparnya ke Stasiun Tugu. Sampai di Stasiun Tugu, gue masih penasaran dengan promo Go-pay Rp 10.000 tadi. Tetapi, ternyata di Stasiun Tugu nggak ada gerai CFC. Hm. Sambil jalan-jalan keluar terdengar perbincangan antara pria dan wanita yang sepertinya baru kenalan,

A: saya turun di kircon

B: kircon?

A: iya, kircon

B: kircon…

B: kircon…

A: iya kircon

Ingin hati memberitahu jika Kircon adalah singkatan dari Kiara Condong, Stasiun tujuan terakhir KA Pasundan, ke mbak-mbak yang terlihat kebingungan itu.

Kereta akhirnya siap berangkat lagi dan semua penumpang disuruh kembali ke gerbong masing-masing, karena di bangku sebelah dan depan gue kosong, gue memanfaatkan kesempatan untuk tidur dengan kaki selonjoran. Cukup tenang perjalanannya, nggak terasa goncangan dan walaupun gerbong ekonomi, AC-nya cukup sejuk. Saking tenangnya, gue terbangun dan ketika melihat keluar, ternyata kereta sedang berhenti, pantes damai banget.

Beberapa menit kemudian kondektur meminta maaf jika kereta api KA Pasundan yang gue tumpangi harus kembali ke Stasiun Tugu lagi karena akan ganti gerbong. Baguslah, tidak memaksakan berangkat, daripada kenapa-napa di jalan. Cukup lama ternyata perbaikannya. Kereta berangkat dari stasiun Tugu sekitar pukul 20.30 WIB. Berarti hampir 3 jam kereta perbaikan. Lalu diinfokan kembali jika penumpang tetap diberikan kompensasi 50% sesampainya di stasiun tujuan. Kirain nambah.

Setelah makan, gue memutuskan untuk tidur sepuasnya mumpung kondisi gerbong sedang lowong. Ternyata keputusan gue tepat karena sampai di Stasiun Mawos, sekitar jam 12 malam, ada satu rombongan kepala desa dari salah satu kecamatan datang. Jumlahnya sekitar 30 orang lebih, karena kalah jumlah, penumpang yang sudah tidur-tiduran selonjoran akhirnya membiarkan rombongan ini untuk duduk di kursinya, karena…. memang sudah hak mereka hehe.

Gue juga membiarkan mereka untuk duduk di bangku sebelah yang memang masih kosong. Sempat mengobrol dengan salah satu dari mereka, katanya mereka kepala desa di satu kecamatan di Mawos yang mau liburan ke Lembang. Saking senangnya, bapak ini menunjukkan kertas rundown acaranya. Kulihat tempat-tempat seperti Floating market, Taman Begonia, dan Ciwalk jadi tujuan acara liburannya. Gue lalu kembali tidur sampai akhirnya bangun jam 3 pagi. Bapak-bapak kepala desa ini masih seru-serunya cerita, sepertinya memang nggak ada niat untuk tidur sama sekali.

Karena nggak bisa tidur lagi, gue memutuskan untuk ke tempat paling nyaman di kereta ekonomi. gerbong restorasi alias kantin kereta. Disana kita bisa duduk sambil selonjoran kaki sepuas-puasnya. Tapi, harus pesan makanan atau minuman dulu ya. Gue kembali membuka aplikasi menulis novel di handphone sambil memesan teh manis. Lumayan lama gue menghabiskan waktu di kantin sampai akhirnya tiba di stasiun Kiara Condong jam 05.10 WIB. Setelah sholat subuh, gue kemudian mengantri untuk mengambil uang kompensasi dari KAI dengan menunjukkan tiket. Masih 50% aja ternyata kompensasinya, nggak nambah.

Share this article
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Apakah artikel kami membantu? Share ke temanmu ya!