Kota Pekalongan dan Drama Tinggal di Daerah Pesisir

Penempatan kerja di Kota Pekalongan sejujurnya bikin gue senang. Setelah 4 tahun tinggal di Bandung, bersambung setahun di Jakarta, lalu 4 bulan di Solo, gue udah kangen banget sama yang namanya pantai. Sempat di Jakarta memang, tapi pantai Ancolnya kan kurang recommended. Singgah sebentar di Kebumen, gue sempat jalan-jalan di pantainya, tapi kata warga airnya sedang naik jadi jangan terlalu dekat dengan pantai. Gue pikir, penempatan di Pekalongan kota akan jadi momen gue bakalan sering main ke pantai.

Kota Pekalongan memang berada di kawasan pesisir. Jarak kotanya dengan area pantai kurang lebih 4-8 km. Tapi pantai disini sebenarnya bukan tipikal pantai yang biasanya jadi tempat wisata. Semacam pantai di Yogyakarta atau Pangandaran. Pantai di Pekalongan kota adalah bagian dari pantai utara (Pantura).

Apa lagi yang identik dan berdekatan dengan pantura? Dangdut pantura, hm iya sih tapi bukan itu. Maksud gue adalah Jalur Pantura. Gue sudah mengenal jalur Pantura sejak masih SD di Aceh. Jalur ini sering disebut saat musim lebaran sebagai jalur mudik. Saat bukan musim mudik, yang melewati jalur ini adalah raksasa-raksasa jalan aspal. Truk bermuatan ton, Truk kontainer, hingga bus-bus besar yang nggak pernah absen melintas di jalur ini. Jadi, kesan pertama gue dengan Pekalongan adalah jalur Pantura yang benar-benar seram bagi gue.

Seram karena ketika sampai di Stasiun Pekalongan, gue harus menyeberang ke Hotel Horison yang letaknya di seberang Stasiun Pekalongan. Gue harus menunggu lalu lintas sepi karena gue bawa koper jadi geraknya lama. Setelah nunggu beberapa lama, akhirnya gue nyerah dan terpaksa minta tolong satpam hotel untuk menyeberangkan gue.

Keesokan harinya setelah motor gue datang, gue berkeliling mencari kosan. Karena kota Pekalongan ini nggak sebesar Solo, gue kesulitan mencari kosan disini padahal sudah mengandalkan aplikasi Mamikos.com dan Infokost.com. Ada beberapa kosan yang bagus, tapi harganya beda dengan yang ditulis di websitenya dong. Ada yang seharusnya harganya sekitaran 650-750 ribu tapi setelah gue datangi, ternyata harganya Rp 1.250.000. Gue cari-cari lagi, dan ternyata harganya rata-rata diatas satu juta. Kalau harga segitu mending gue ngekos di Jakarta.

Singkat cerita, akhirnya gue berhasil dapat kosan juga dengan fasilitas yang dibawah ekspektasi gue tapi harganya bersahabat. Alhasil, gue cuma tinggal sebulan disitu karena nggak tahan. Setelah ngedumel karena harga kosan dan akhirnya dapat kosan tapi dibawah ekspektasi, kekesalan gue belum usai. Pekalongan itu ternyata sedang rawan terkena banjir rob. Jadi semacam banjir tapi wilayah pesisir gitu. Perumahan-perumahan dekat pesisir pantai gue lihat banyak yang terendam banjir.

Kosan gue yang letaknya nggak terlalu jauh dari pesisir sebenarnya nggak terdampak banjir sih. Tapi banjir tersebut membuat got-got di Kota Pekalongan penuh dengan air hitam dan bau. Itu gue rasakan saat lari sore di lapangan Mataram. Tiap gue lari sore lewat bagian yang gotnya agak gede, bau nggak enak langsung tercium. Got kotor akan menghasilkan apa? Nyamuk. Malam hari, nyamuk-nyamuk keluar dari sarangnya. Malam pertama gue di Pekalongan gue langsung beli Hit elektrik untuk mengusir nyamuk-nyamuk. Esoknya gue harus berhadapan dengan suasana khas kota pesisir. Udara di Pekalongan panas, pake banget.

Kosan mahal, Jalur pantura dengan mobil-mobil besarnya, banjir rob, air got bau, panas, sampai nyamuk-nyamuk. Jadi buat teman-teman yang mau ke Pekalongan dan butuh info Pekalongan, diatas adalah kesan-kesan pertama gue tentang kota ini. Karena kondisinya yang seperti itu, gue mengakali dengan cara sering-sering nongkrong di kafe yang adem dan ada wifinya. Walaupun sering ditanya, “sendiri aja mas?’ Gue udah bodo amat karena memang nggak pewe di kota itu. Untuk impian pantai, gue akhirnya hanya bisa mewujudkannya dengan sarapan di pinggir pantai pakai nasi megono dan cumi. Sama sekali nggak sesuai dengan ekspektasi memang, tapi cukup kok untuk pengalaman tinggal di kota ini.

Share this article
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Apakah artikel kami membantu? Share ke temanmu ya!