Solo Trip ke Semarang: KA Kaligung, Hostel 31.000 dan Venom

Lawang Sewu Semarang

Gue ditinggal sama tim gue. Itu yang gue pikirkan ketika mendengar kabar penempatan selanjutnya adalah di Pekalongan dan gue di plot untuk stay disana sendirian, sedangkan yang lain berdua. Hampir 1 bulan gue di kota ini, karena gabut dan kota ini tidak punya bioskop, gue memutuskan untuk mampir ke kota sebelahnya yang lebih besar, Semarang, ibukota Jawa Tengah. Tujuan gue solo travel ke Semarang sebenarnya adalah menonton Venom, tetapi, karena jadwalnya akhir pekan, gue memutuskan untuk menginap dan jalan-jalan di Semarang. Sendirian.

Kenapa sendirian? Karena emang gue nggak ada teman di Semarang. Gue orang Aceh, kantor (pusat) gue di Jakarta, motor plat B, kuliah di Bandung, kerja di Pekalongan. Jadi, di sepanjang riwayat gue, gue belum pernah punya teman orang Semarang.

Akhirnya gue ke memulai perjalanan solo travel ke Semarang di hari Sabtu, naik kereta ekonomi yang ternyata nyaman banget.

Nama keretanya, kereta Kaligung. Gue sering naik kereta selama tugas di Jawa Tengah, tapi bukan berarti maniak yang hapal nama mesin gerbong yang videonya banyak di Youtube. Di antara kereta ekonomi yang pernah gue tumpangi, kereta Kaligung ini adalah yang paling nyaman. Kereta ekonomi lainnya seperti jurusan Pekalongan-Jakarta, Jogja-Bandung, kursinya itu tegak dan hadap-hadapan. Jadi sering ketika tidur, selain pasti akan kerasa pegal nantinya, lutut kita akan bertemu dengan lutut orang yang duduk di depan kita. Rada ribet juga untuk selonjoran. Kadang harus kerjasama dengan orang yang di depan kita menggunakan telepati. Kalau yang depan lagi pengen ngangkang, kaki kita selonjorin ke tengah, sebaliknya pas dia lagi pengen kakinya rapat, kita selonjoran ngangkang (true story).

Nah, kereta Kaligung ini terinspirasi dari nama Kali Gung yang mengalir di Tegal. Jadi, Kaligung ini melayani trayek Tegal-Semarang (Semarang-Solo juga?), yang mana di Pekalongan akan berhenti sebentar buat ngambil penumpang.

Bedanya dengan kereta ekonomi jarak jauh lainnya, di Kaligung ini nggak ada ceritanya kursi hadap-hadapan (ada sih, kursi yang posisinya di tengah gerbong). Terus kursinya itu agak miring, jadi enak untuk bersandar. Masing-masing kursi juga ada sekatnya, jadi nggak harus beradu bahu kayak lagi Solat berjamaah. Jackpotnya itu ketika melewati daerah Batang. Kalau dari arah Tegal duduknya di sebelah kiri, kita akan melihat pemandangan pantai. Jujur, ini pertamanya gue ngeliat pantai dari kereta. Mungkin jalur lain juga lewat, cuma karena kereta malam, guenya aja yang nggak liat. Pengalaman terbaik gue naik kereta ekonomi ya KA Kaligung. Dari Pekalongan ke Semarang harganya 40.000, begitu juga sebaliknya. Perjalanan sekitar 1 jam lebih sedikit. Untuk Tegal-Semarang google sendiri aja.

Pantai di Semarang

Sesampainya di Semarang, gue langsung meluncur ke Kota Tua karena penginapan gue terletak di daerah itu. Nama penginapannya DS Layur Hostel. Jujur aja, ini penginapan termurah yang pernah gue rasakan. Bayangin aja hanya seharga Rp 31.000 untuk semalam. Kamarnya campur, bisa memuat 20 orang disitu dengan kasur tingkat. Tapi, tiap kasur ada sekat dan dilengkapi tirai, jadi privasi aman kecuali ada orang iseng yang buka tirai kita tiba-tiba. Nah, Rp 31.000 itu udah biaya untuk tidur semalam, air minum, sikat gigi dan sabun, wifi, dan kamar mandi shower diluar. Worth it? Yaiyalah, pake banget. Tapi ada kejadian di hostel ini yang menyadarkan gue kalau manusia ini hanyalah makhluk lemah, di bawah akan gue ceritain.

Sesampainya di kota Tua, gue buka maps buat tahu jarak dari tempat gue ke hostel. Jauh men. Gue sotoy banget mengira kota tua Semarang kayak kota Tua Jakarta. Kota Tua Jakarta mah, cuma sebesar sepetak lapangan dikelilingi gedung-gedung. Kalo Kota Tua Semarang, nggak sebesar kota juga sih, tapi kayak kawasan. Jadi walaupun udah menyeberang jembatan, DS Hostel Layur itu tetap masuk daerah Kota Tua Semarang. Karena udah terlanjut nyasar, gue ambil foto-foto dulu deh sama makan karena gue kebetulan dari pagi belum makan.

Gereja di Kota Tua Semarang

Taman di Kota Tua Semarang

Setelah makan, gue lanjut ke Hostel naik Go-Jek. Karena dateng kecepetan dan belum waktunya untuk check in, gue melipir dulu beli air tebu sambil mindless scrolling Twitter. Pas jam 2 gue balik ke hostel dan langsung ditunjukin letak kamar gue. AC kamarnya dingin banget, kontras sama keadaan Semarang yang panas. Sebelum gue masuk, ada sandal perempuan di luar pintu, karena ini kamarnya campur alias mixed dorm jadi ya biasa aja kalau ada perempuan. Sekali lagi, kasurnya itu ada sekatnya yang tinggi, jadi ada privasi. Sama kayak lagi mandi di kampung-kampung dengan atap terbuka. Dindingnya ada, privasi ada, cuma kalau ada orang iseng ngintip ya mau gimana.

Gue tidur-tiduran sebentar meresapi dinginnya AC. Lagi tidur-tiduran, gue dengar suara senandung perempuan gitu, lagu-lagu gereja, yaudah gue maklum namanya juga kamar campur, toh nggak teriak-teriak juga orangnya. Sekitar 15 menitan, gue ke kamar mandi. Pas balik, suaranya udah gak ada lagi, gue butuh password wifi. Karena males turun ke lantai 1, gue manggil, “mbak”, karena mau nanya password ke si mbak-mbak yang tadi asyik nyanyi.

Pas tadi gue masuk kamar jam 2, mbak ini udah ada duluan di kamar. Jadi, asumsi gue, si mbak ini harusnya udah nginap dari kemarin malam dong, dan pasti dia tau password wifi-nya. Tapi alih-alih gue dengar jawaban, malah hening. Gue panggil lagi, tetap hening. Saking heningnya gue ngomong sendiri dong, “aduh, perasaan ada orang deh”, gue ngomong gitu karena jujur aja gue udah takut sih.

Lawang Sewu Semarang

Gue bergumam gak jelas biar gak terlalu takut sambil mau ke pintu keluar. Mencoba berpikir positif, paling mbaknya lagi keluar kamar, jadi gue keluar juga karena udah takut. Ditambah kamarnya agak gelap. Pas gue keluar ada suara mbaknya dong, “iya”, logat jawa gitu. Terus gue kayak orang kagetan, gue teriak! Karena emang  beneran kaget sih, tiba-tiba ada yang bersuara. Gue langsung nanya sambil terbata-bata, “password wifi-nya apa ya mbak”, dia ngasih tau password-nya. Udah gitu doang, gue nggak tau mbaknya tidur di kasur yang sebelah mana, karena emang dia ngomong dari kasur dan ketutup tirai gitu.

Gue balik lagi ke kasur sambil wifian, terus tidur-tiduran nunggu jam 4. Gue nggak ada plan lain selain nonton Venom sama ke Lawang Sewu. Jadi jauh-jauh gue ke Semarang, kebanyakan waktunya gue habisin di hostel tidur-tiduran, dan main game di laptop. Karena kosan gue di Pekalongan kan emang nggak ada AC, jadi puas-puasin lah ceritanya. Nggak lama kemudian masuk serombongan perempuan, gue nggak tau ada berapa orang sih.

Setelah masuk kamar, rombongan ini ngobrol dengan suara gede gitu karena mengira cuma ada mereka di kamar ini. Saking pedenya mereka bilang, “Cuma kita doang kayaknya”. Gue ya cuek aja lanjut tidur-tiduran sambil liat hape. Mereka terus ngobrol, sampai gue yang denger merasa terlibat di dalam ceritanya, si A putus sama si B, si B jadian lagi sama si C, tapi si A juga suka sama si C (lha?), dan seterusnya sampai gue juga kepo pengen tau kelanjutan ceritanya.

Sampai akhirnya, salah satu dari mereka mengeluarkan suara yang bikin gue terkaget-kaget, untungnya nggak sampai teriak. Ada yang kentut dong, gede banget suaranya, GILA!. Gue speechless, mau mendehem atau apa juga bingung, gue cuma diam di kasur gue. “Hahaha”, tawa si kentut, puas banget bikin gempar kamar hostel yang dia pikir cuma gerombolan dia doang. Teman-temannya yang lain ada yang mencibir, “Ih apasi”, ikut ketawa juga, sampai salah satu dari mereka dengan dinginnya ngomong, “Eh, ada orang lain tau”. Tawa si kentut berhenti, “Nggak ada siapa-siapa tau, cuma kita doang”. Gue udah nggak tahan lagi, akhirnya gue memutuskan untuk keluar dan berangkat ke Lawang Sewu. Mereka langsung diam, apalagi si kentut yang sadar bukan cuma gerombolan dia yang dengar kentutnya. Sampai gue keluar dari kamar, mereka masih diam.

Disitu gue sadar betapa manusia hanyalah makhluk lemah. Lemah apanya, gue nggak tau, udah terlanjur ketulis.

Sampai di Lawang Sewu, gue cuma jalan-jalan sendiri. Terus makan CFC di Lawang Sewu, keren sih, makan fast food tapi pemandangannya gedung era kolonial kayak Lawang Sewu. Hm, di Kota Tua Jakarta juga ada KFC deng. Terus gue main-main sama kucing dan ngobrol sama penjaga Lawan Sewu, karena jujur aja, Lawang Sewu gagal bikin gue takjub. Mungkin karena gue kesana sendiri.

Selanjutnya gue balik ke hostel, main game. Terus karena sedang akhir pekan, gue nonton bola pakai Maxstream Telkomsel. Karena gue pakai kartu Halo, ada paket entertainment-nya. Guekira Maxstream Telkomsel ini pakai paket entertainment itu. Ternyata enggak dong, malah makan kuota utama. Hadeh.

Di hostel gue ketemu lagi sama mbak pemilik suara misterius, dia pakai baju rumahan sambil makan. Kayaknya dia udah nginap disini dari lama deh. Mungkin dia buronan gangster, atau selingkuhan yang diam-diam tinggal disini. Karena dengan harga 30 ribu per malam, itu murah banget men. Terus ketemu orang Perancis juga yang bingung mau ke Jepara. Semakin malam, makin banyak tamu yang datang. Entah itu tujuannya mau ngapain di Semarang, gue sendiri cuma mau nonton Venom aja.

Share this article
error

2 thoughts on “Solo Trip ke Semarang: KA Kaligung, Hostel 31.000 dan Venom

  1. hahahah kok kocak sih pas kejadian di hostelnya. dibanding kotu jakarta, kotu semarang lebih rapi dan menarik selain luas, cuma ya ternyata jalan kaki sambil kepanasan dan gendong ransel bikin capek juga, (pengalaman pribadi). salam kenal dari Banjarnegara : )

    1. Salam kenal juga mas. namanya juga kamar mixed dorm, banyak kejadian tidak terduga haha. Iya, cuma sedang ada perbaikan jalan di depan taman kotu, jadinya pas saya kesana berdebu sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Apakah artikel kami membantu? Share ke temanmu ya!